Mengiklaskan

Belajar diwaktu kecil bak menulis diatas batu, belajar selepas tua bak menulis diatas air.

Pepatah yang amat mendalam maknanya terasa setelah Saya besar, menjadi dewasa dan tua itu pasti sehingga pepatah orang tua dulu terasalah dihari ini.

Menyesal?,,, sudahlah pasti karena Saya tergolong orang yang menyia-nyiakan masa kecil Saya, terlahir dari keluarga yang tidak mampu merupakan anugrah terbesar dalam hidupku, selain dari bisa menikmatinya beban hidup, Sayapun bisa merasakan betapa pedihnya bertahan hidup, sekedar untuk membiyayai sekolahpun Saya harus menjajakan es sembari sekolah.

Sekilas dari masa kecil Saya yang terlihat merana justru beraroma mangga, penghasilah dari menjual es pun, dulu,,, bisa dipkai untuk membiyai sekolah SD dan MDT, syukurlah sampai sekarang masih merasakan anugrah yang Tuhan berikan.

Mengikhlaskan bukan berarti melepaskan begitu saja, setelah proses mempertahankan yang semaksimal mungkin dan berusaha untuk mengamanahkannya kepada orang lain, melepas bukan berarti tak mencari, akan tetapi belajar mengikhlaskan adalah tahapan dalam setiap amanah yang kita emban.

Proses dari besi menjadi pisau tajampun, bukan didapat dari proses yang instan, banyak rasa sakit dan waktu yang tidak sedikit, kemudian tidak cukup hanya menjadi pisau, tetapi haruslah diasah dan dirawat supaya ketajamannya tetap terjaga dan bisa dirasakn oleh siempunya pisau.

Iklan

Raungan Surga

Melepaskan anak keranah pendidikan bukanlah hal yang menyenangkan bagi para orangtua, bukan hal yang mudah pula untuk membiasakan diri dirumah tanpa ditemani sang buah hati, perlu keridhaan dan kesabaran yang eksta, apalagi ranah pendidikannya yang mengharuskan sang anak untuk tinggal dan menetap diasrama.

Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu Negara, maju atau tidaknya ditentukan oleh kualitas pendidikannya, banyak yang mengatakan sekarang ini merupakan jaman moder, jaman melenium, bagi Saya bukan lagi modern dan melium melainkan lebih dari itu semua, Pesantren merupakan solusi jitu untuk kesiapan generasi kita bisa mengarungi lautan modernisasi.

Menjadi pengandi di Pesantren bukanlah sebuah propesi, melaikan sebuah amanah, karena Pesantren bukanlah tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup, melihat antusias para Orang Tua yang ingin menitipkan anakanya di Pesantren menjadi kenikmatan tersendiri, walaupun tidak sedikit resiko yg harus diambil, dimulai dari keridhaan meninggalkan anak dan sebagainya, tentu bukan tanpa alasan, alasannya sangat jelas yaitu ingin mensholehkan anak tentunya.

Awal kedatangan para calon santi sungguh luar biasa, ada yang langsung mendapatkan teman baru dan merasa nyaman, adapula yang sebaliknya, mereka menangis tersedu-sedu kangen akan suasana rumah dan Orang Tuanya, disinilah kalian dibesarkan dengan ditempa berbagai macam ilmu Agama supaya kelas kalian bisa menjadi “syafa’at” bagi orangtua kalian, kalian itu seperti celengan kebaikan bagi Orang Tua kalian.

Merelakan anak untuk mendalami ilmu Agama merupakan pilihan yang berat, karena balasannyapun setimpal, Allah jaminkan rezekinya, Allah mudahkan urusannya dan masih banyak lagi keutamaan dari mempesantrenkan anak, jadi bagi orangtua janganlah bersedih hanya karena anak Ibu/Bapak menimba ilmu di Pesantren justru Ibu/Bapak haruslah berbahagia karena sebenarnya anka Ibu/Bapak sudah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi baik.

Neo Modern

Sudah cukup lama Aku berada ditempat yang baru, hampir empat bulan lamanya menjadi “khadim” di lembaga yang bernama YASPIKA, walaupun sebentar kesannya sangat berbenak disanubari, susah senang dan rasa yang bercampur menjadi nano-nano itulah perasaan yangku jalani dari hari ke hari.

Tahun ajaran baru 2018-2019 sudah menampakan keseriusaannya, sudah menjadi hal lumrah adanya murid baru berarti ada inovasi dan kebijakan yang baru pula, setiap lembaga sudahlah harus siap dan matang dalam menjalani masa ajaran baru, ada yang masuk dan keluar itulah dinamikanya, sukses tidak didapat dengan hanya diam dan menunggu kesuksesan itu harus direncanankan, perencanaan yang matang merupakan salah satu pijakan kesuksesan.

RAKER, kata akronim yang menjadi awal dibukanya perencaan kesuksesan, walaupun dilakukan dimasa peralihan tahun ajaran “libur”, namun dengan loyalitas para pendidik dan tenaga pendidik, alhamdulillah RAKER dapat terlaksana dengan baik, walaupun y dilaksanakan dengan cukup sederhana dan alakadarnya, namun tidak mengurangi subtansi RAKER itu sendiri.

Merealisasikan setiap rencana tentulah tidak semudah membalikan telapak tangan, dibutuhkan kerjasama antar lembaga supaya agenda yang sudah direncakan teerlaksana dengan baik dan diacaran ini dibangunlah kepercayaan antar lembaga supaya siap membantu satu dengan yang lainnya, filosofi sepak bola yang dipakai yang penting kerja tim dulu untuk masalah hasil kita tidak memikirkan, kita berpegang pada pepatah ” usaha tidak akan menghianati hasil “.

Menuju Sempurna

Kapan nikah?,,, sebuah pertanyaan yang menjadi momok menakutkan bari para jomblower tua, pertanyaan yang kadang lebih penting dari penanyakan kabar, sebuah tradisi yang dibudidayakan ditujukan untuk setiap jomblower tua, memang pertanyaan ini menjadi makanan wajib disetiap tongkrongan kopi bagi kami para jomblower tua.

Menjadi tua memang sudah menjadi kepastian hidup, dilawan dengan apapun menjadi tua tak bisa dilawan, bahkan dengan kosmetik yang harganya berapapun masa tua akan menghampiri dengan catatan kita tidak mati sebelum tua hahaha….

Kekuatan fisik menurun, daya ingatpun ikut menurut dibumbui dengan kerutan disana-sini, bahkan rambutpun dengan sendiri berubah menjadi banyaknya bercak putih, pola pikir mulai banyak perhitungan dan itulah tanda-tanda kita menua.

Mendapatkan pasangan hidup yang bisa setia dan mau berjuang bersama-sama serta saling mengisi kekosongan pasangan satu sama lainnya merupakan harapan baik dilelaki ataupun diperempuan, namun mencari “sebagian iman kita” bukanlah perkara mudah, banyak sebab kenapa para jomblower tua telat merasakan kesempurnaan, banyak yang beranggapan nikah itu takdir Tuhan, memang tapi sejauh mana kita berusaha, maksimal atau belum?,,, ditambah deretan adat yang begitu membuat kita mengerutkan kening, itulah salah satu yang membuat mundurnya para single menjadi double, walaupun rukun nikah itu hanya berjumlah lima, namun kadang perkara yang mudharatpun dijadikan kebutuhan yang harus ada dalam prosesi pernikahan.

Paham matrealistis menambah kesulitan dalam menentukan jawaban kapan nikah. Pekerjaan, turunan, kecantikan, campur tangan orangtua, entahlah kadang semua itu menjadi batu sandungan, namun menyegerakan menikah merupakan hal yang baik.

Memuarakan cinta, dalam menentukan calon yang akan kita nikahi janganlah hanya berpaku pada seputar fisik, orangtua memberi saran “teangan piinungeun budak”, maksudnya kurang lebih seperti ini : khusunya bagi para lelaki jangan tertipu dengan paras cantiknya wanita, setelah kita menentukan pasangan lihat juga apakan mememang wanita ini mampu menjadi ibu dari anak kita?,,, sungguh perkara nikah itu bukan hanya memberi syahwat tapi berilah kasih sayang.

Bagi teman-temanku yang sudah nikah, Aku ucapkan selamat, kalian telah menyempurnakan keimanan kalian, bagi yang belum saya doakan semoga kalian secepatnya mendapatkan pasangan yang bisa mengisi kekurangan kalian, ingat rumah tangga itu membangun bersama, khusus bagi temanku yang sebentar lagi melaksankan pernikah, jangan takut setelah menikah kamu miskin, karena yang menjamin pernikahan itu berkah bukan hartamau atapun oranglain, akan tetapi jaminan nikah itu berkah adalah Tuhanmu, ingat jangan ragukan janji Tuhamnu, karena Tuhanmu tak akan pernah ingkar janji.

Berlumpur

Berikan senyum yang renyah pada setiap waktu walaupun memang sang waktu terkadang tidak berpihak pada kita, sembunyikan kesedihan karena masalah tidak selesai hanya dengan perasaan bersedih, orangpun tak terlalu tertarik melihat wajah kita yang mendung, teruslah bermimpi walaupun hanya sebatas merebahkan badan dialas tanah, mimpi tak ada yang terlalu kecil kalau hanya dipikir, actions itu yang perlu kita lakukan, seribu langkahpun diawali oleh satu langkan, kalaulah tak melangkah, apalah wacana hanya tinggal wacana.

Berharap yang lebih baik, dalam benak bahkan keinginan setiap orang memang selalu mrnginginkan yang terbaik, belajarlah untuk selalu berpradangka baik terhadap-Nya, karena kita bukan ahli apa-apa, Dialah Maha pengatur segala sesuatu, menaknai hidup tak harus dengan menyikapinya dengan matrealistis, merekahnya bibirpun itu merupakan suatu kenikmatan, maka Tuhan mengutus Rosulnya supaya manusia mendapatkan kebahagiaan.

Rosul-Nya mengajarkan kenada kita supaya mengikuti ajaran-ajarannya, bahkan Rosul merupakan “uswah” yang sangat baik untuk ummatnya, banyaklah sudah betapa ahlaq Rosul begitu patut dan wajib untuk diikuti ummatnya, walaupun memang kita tidak langsung bertemu dengannya, namun betapa banyak tulisan, hikayat yang mengabadikannya, bahkan Tuhan menguatkan kerasulannya dengan bukti yang sangat nyata dan jelas, ini merupakan pedoman, pegangan, obat, anugrah bagi ummatnya “Al-Qur’an” itulah bukti mukjijat Baginda Rosulullah Saw.

Berenang, suatu olahraga yang membutuhkan keberanian, membutuhkan ruang dan tempat yang semestinya, bukan hanya bersipat olahraga, berenang juga merupakan suatu keahlian yang dimiliki Baginda Rosulullah, berenang bukan hanya menyehatkan disamping itu belajarlah berenang supaya kita tahu betapa anugrah Tuhan begitu besar, nikmat tuhan begutu banyak dan sebagai wasilah akan bukti kecintaan kita kepada Baginda Rosulullah.

Rencana Tuhan sungguh luar biasa tanpa diduga dan disangka, akhirnya Aku diperkumpulan dirumah Kepsek dengan beberapa stafnya, memang awalnya kami hanya bersenda gurau digrup WA, namun Tuhan izinkan kami untuk berjalan dalam Qudrat-Nya, kami bertemu dan kami berbahagia atas apa yang Tuhan anugrahkan.

Ketika orang lain sibuk dengan uploadan liburannya dengan mengesampingkan kewajibannya (membayar hutang), tidak seluruhnya hanya saja ada beberapa yang mengedepankan prinsip “gakpapa tekor yang penting sohor”, adat memang dihormati oleh syara’, hanya saja bukan dalam keseluruhannya melaikan hanya sebagiaanya saja, itupun yang sama sekali tidak berbenturan dengan syara’. Kalaulah tak ada jangan memaksakan, memang mengakui akan kekurangan kita itulah yang lebih susah, manusia terlihat bodoh ketika menilai dirinya sendiri kemudian manusia menjadi pintar ketika melihat kekurangan orang lain.

Sederhana namun bermakna, sedikit namun mengigit, sebentar namun bergetar, itu merupakan prinsip yang kami bangun supaya kami menjadi lebih bernilai, kami lebih bermakna, tidaklah baik kebahgiaan yang pada akhirnya melupakan yang membuat kebagian itu, banyangkan kalaulah Tuhan tidak memciptakan kebagiaan untuk ciptaanya, apalah jadinya kita hidup didunia fana ini.

Ruang Terang

Syawal menampakan dirinya, berlalunya waktu menyisakan benih-benih dosa, sebulan kita ditempa diakhiri dengan kemenangan, manusia beriman dikembalikan keasal, asal dimana seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya bersih tanpa membawa dosa, suasana lebaran fitri tak begitu saja lekang dimakan liburan, memaknainya haruslah sakral pula seperti bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan.

Prosesi manusia dikeheningan lebaran fitri sungguh beranekan ragam, ada yang balas dendam, mereka menghabiskannya dengan beberepa kegiatan yang hanya menyenangkan lahiriahnya saja, adapula mereka yang memaknainya dengan lurur yakni orang-orang yang terus memanjangkan dan menjaga erat tali silaturahmi, mereka menjadikan momentum lebaran fitri bukan ajang pamer harta dan lain sebagainya, namun mereka lebih memaknainya sebagai ajang ajang saling memaafkan dan saling silaturahmi, bukan hanya kepada kebaratnya tapi kepada setiap muslim karena hakikatnya muslin dan muslim lainnya itu bersaudara.

Bukan tidak boleh setelah lebaran fitri ini, kita merencanakan berwisata dengan sanak famili, namun seolah-olah kita gembira dengan Ramadhan yang meninggalkan kita, bukankah kita diajarkan untuk bersedih ketika ditinggalkan Ramadhan?,,,

Jangan tinggalkan Aku?,,, segelintir orang sadar bahwa mereka belumlah tentu akan menemui Ramadhan yang selanjutnya, kebiasaan dibulan Ramadhan dengan datangnya bulan Syawal ini janganlah serta merta kita tinggalkan, Ramadhan itu bukan sarana tabungan amaliyah kita, hanya karena kita beranggapan mumpung Ramadhan sehingga kuantitas ibadah kita dinaikan dan kita berasumsi cukuplah amaliyah kita dibulan Ramadhan, saya kira kalaulah kita beranggapan seperti itu saya rasa itu pradigma yang salah karena sesungguhnya semua ini hanya cobaan, dan Dia (Allah) sedang mencoba mahluknya mana yang lebih baik menurut-Nya, ingat!!! Tanda orang yang diterima puasanya adalah kebiasaan Ramadhan dilestarikan dijaga terus dilaksankan secara berkesinambungan sampai datang Ramadhan yang akan datang.

Wasilah Hidupku

Teruntuk Engkau yang menjadi wasilah Aku hidup dan merasakan kehidupan.

Gaungan takbir tinggal menghitung jam karena hari ini telah sampailah kita dipenghujung bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan ampunan, bulan yang penuh dengan rahmat dan bulan yang bebasnya ahli neraka dari siksaannya, dimana pada bulan ini setan terbelenggu tak bisa menggona manusia yang ikhlas serta khusu melaksanakan qiamu Ramadhan dan puasa Ramadhan.

Jalan-jalan menampakan sesaknya, berjubel kendaraan dengan flat nomor yang beraneka ragam, kemana tujuan mereka sebenarnya?,,, berjumpa dengan orangtua, sanak sodara dan handai tolan itulah tujuan mereka, setelah lelahnya melaksankan ibadah puasa sebulah penuh diakhiri dengan bersilaturahmi kepada orangtua, sungguh apa lagi nikmat yang akan kita dustakan???

Orangtua tua merupakan wasilah adanya kita kealam fana ini, sehingga kita bisa merasakan betapa harumnya minyak axe, merasakan betapa pahitnya rasa pare, dan bebasnya menghirup oxigen, betapa besar jasa mereka pada kita, Ibu kita mengandung kita selama sembilan bulan lamanya, dua tahun terus menyui kita sampai-sampai ketika Ibu kita tidur pulas, kita bangun dan menangis minta ASI dengan sigap Ibu kita bangun, sampailah pada saat ini kita masih menyusahkan mereka, Ayah kita tak ada capenya terus bekerja membanting tulang demi menjamin kenyamanan hidup kita demi menjamin kebahagiaan hidup kita, sudahkah kita membalas kebaikan mereka?,,,

Ibu Ayah maafkanlah anakmu ini, anak yang masih membuatmu merasa khawatir dan cemas, anak yang terus membuatmu bangun ditengan malam karena anakmu ini belum pulang, Ibu Ayah kau sengaja tidur diruang keluarga dikursi yang sudah usang hanya demi memastikan anakmu pulang dengan selamat, Ibu Ayah maafkan anakmu yang masih saja membuatmu mengucurkan air mata, disetiap do’a dan sujudmu hanya namaku yang kau sebut, betapa panjang dan banyak do’a-do’a yang kau pintikan kepada Tuhan untukku, kaulah jalan menuju kebahagianku didunia dan diakhirat, betapa Aku sangatlah berdosa karena terus menyakiti perasaan kedua orangtuaku.

Ibu Ayah maafkanlah anakmu ini, do’akanlah anakmu supaya menjadi penolongmu kelak diakhirat sana, Ibu Ayah kalian tidak pernah memaksaku untuk menjadi sempurna, betapa kalian bermurah hatinya kepada anakmu ini, walaupun kalian tahu betapa bejadnya anakmu ini, namun pintu rumah kalian selalu terbuka untuku dengan sambutan yang selalu hangat, Ibu Ayah maaf!!! Maafku bukan hanya diwaktu ini tapi permohonan maafku akan selalu kugaungkan selama nyawa ini menaungi ragaku, do’aku untuk Ibu dan Ayahku, mudah-mudahan kalian selalu ada dalam Ridha dan Rahmat Allah, semoga kalian selalu ada dalam keadaan sehat, semoga kalian dipanjang umur dan dimudahkan rezekinya dan kututup do’aku pada kalian Ibu Ayah mudah-mudahan kita dipertemukan dan dipersatukan kembali dalam Surganya Allah Swt, Aamiin